Kota
English: City

Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. Sistem kota adalah sekelompok kota-kota yang saling tergantung satu sama lain secara fungsional dalam suatu wilayah dan berpengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Sistem kota berisi tentang distribusi kota, indeks dan keutamaan kota serta fungsi kota.[1]

Pengertian "kota" sebagaimana yang diterapkan di Indonesia mencakup pengertian "town" dan "city" dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat pula kapitonim "Kota" yang merupakan satuan administrasi negara di bawah provinsi. Artikel ini membahas "kota" dalam pengertian umum (nama jenis, common name).

Kota dibedakan secara kontras dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum.[butuh rujukan] Desa atau kampung didominasi oleh lahan terbuka bukan pemukiman.

Kota memiliki tiga ciri utama, yaitu memilki kepadatan penduduk yang tinggi, pusat segala kegiatan, dan kegiatan utama non pertanian.

Fungsi

Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan dan fungsi yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut:

Ciri-ciri

Ciri fisik kota meliputi hal sebagai berikut:

  • Tersedianya tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan
  • Tersedianya tempat-tempat untuk parkir
  • Terdapatnya sarana rekreasi dan sarana olahraga

Ciri kehidupan kota adalah sebagai berikut:

  • Adanya pelapisan sosial ekonomi misalnya perbedaan tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
  • Adanya jarak sosial dan kurangnya toleransi sosial di antara warganya.
  • Adanya penilaian yang berbeda-beda terhadap suatu masalah dengan pertimbangan perbedaan kepentingan, situasi dan kondisi kehidupan.
  • Warga kota umumnya sangat menghargai waktu.
  • Cara berpikir dan bertindak warga kota tampak lebih rasional dan berprinsip ekonomi.
  • Masyarakat kota lebih mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial disebabkan adanya keterbukaan terhadap pengaruh luar.
  • Pada umumnya masyarakat kota lebih bersifat individu sedangkan sifat solidaritas dan gotong royong sudah mulai tidak terasa lagi. (stereotip ini kemudian menyebabkan penduduk kota dan pendatang mengambil sikap acuh tidak acuh dan tidak peduli ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka mengabaikan fakta bahwa masyarakat kota juga bisa ramah dan santun dalam berinteraksi).

Teori struktur ruang kota

Teori-teori yang melandasi struktur ruang kota yang paling dikenal yaitu:

  • Teori Konsentris (Burgess, 1925)
Teori Konsentris

Teori ini menyatakan bahwa Daerah Pusat Kota (DPK) atau Central Business District (CBD) adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota.DPK atau CBD tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan barang supaya tahan lama (storage buildings).

  1. Zona pusat daerah kegiatan (Central Business District), yang merupakan pusat pertokoan besar, gedung perkantoran yang bertingkat, bank, museum, hotel, restoran dan sebagainya.
  2. Zona peralihan atau zona transisi, merupakan daerah kegiatan. Penduduk zona ini tidak stabil, baik dilihat dari tempat tinggal maupun sosial ekonomi. Daerah ini sering ditemui kawasan permukiman kumuh yang disebut slum karena zona ini dihuni penduduk miskin. Namun sebenarnya zona ini merupakan zona pengembangan industri sekaligus menghubungkan antara pusat kota dengan daerah di luarnya.
  3. Zona permukiman kelas proletar, perumahannya sedikit lebih baik karena dihuni oleh para pekerja yang berpenghasilan kecil atau buruh dan karyawan kelas bawah, ditandai oleh adanya rumah-rumah kecil yang kurang menarik dan rumah-rumah susun sederhana yang dihuni oleh keluarga besar. Burgess menamakan daerah ini yaitu working men's homes.
  4. Zona permukiman kelas menengah (residential zone), merupakan kompleks perumahan para karyawan kelas menengah yang memiliki keahlian tertentu. Rumah-rumahnya lebih baik dibandingkan kelas proletar.
  5. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Ditandai dengan adanya kawasan elit, perumahan dan halaman yang luas. Sebagian penduduk merupakan kaum eksekutif, pengusaha besar, dan pejabat tinggi.
  6. Zona penglaju (commuters), merupakan daerah yang yang memasuki daerah belakang (hinterland) atau merupakan batas desa-kota. Penduduknya bekerja di kota dan tinggal di pinggiran.
  • Teori Sektoral (Hoyt, 1939)
Teori Sektoral

Teori ini menyatakan bahwa DPK atau CBD memiliki pengertian yang sama dengan yang diungkapkan oleh Teori Konsentris.

  1. Sektor pusat kegiatan bisnis yang terdiri atas bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan pusat perbelanjaan.
  2. Sektor kawasan industri ringan dan perdagangan.
  3. Sektor kaum buruh atau kaum murba, yaitu kawasan permukiman kaum buruh.
  4. Sektor permukiman kaum menengah atau sektor madya wisma.
  5. Sektor permukiman adi wisma, yaitu kawasan tempat tinggal golongan atas yang terdiri dari para eksekutif dan pejabat.
  • Teori Inti Berganda (Harris dan Ullman, 1945)
Teori Inti Berganda

Teori ini menyatakan bahwa DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai salah satu growing points. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, seperti retailing, distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain. Namun, ada perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, yaitu bahwa pada Teori Pusat Berganda terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu berbentuk bundar.

  1. Pusat kota atau Central Business District (CBD).
  2. Kawasan niaga dan industri ringan.
  3. Kawasan murbawisma atau permukiman kaum buruh.
  4. Kawasan madyawisma atau permukiman kaum pekerja menengah.
  5. Kawasan adiwisma atau permukiman kaum kaya.
  6. Pusat industri berat.
  7. Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran.
  8. Upakota, untuk kawasan mudyawisma dan adiwisma.
  9. Upakota (sub-urban) kawasan industri
  • Teori Ketinggian Bangunan (Bergel, 1955).

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan struktur kota dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD secara garis besar merupakan daerah dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat tinggi dan ada kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini, maka di DPK atau CBD paling sesuai dengan kegiatan perdagangan (retail activities), karena semakin tinggi aksesibilitas suatu ruang maka ruang tersebut akan ditempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.

  • Teori Konsektoral (Griffin dan Ford, 1980)

Teori Konsektoral dilandasi oleh struktur ruang kota di Amerika Latin. Dalam teori ini disebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan tempat utama dari perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Di daerah ini terjadi proses perubahan yang cepat sehingga mengancam nilai historis dari daerah tersebut. Pada daerah – daerah yang berbatasan dengan DPK atau CBD di kota-kota Amerika Latin masih banyak tempat yang digunakan untuk kegiatan ekonomi, antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan untuk golongan ekonomi lemah dan sebagian lain dipergunakan untuk tempat tinggal sementara para imigran.

  • Teori Historis (Alonso, 1964)

DPK atau CBD dalam teori ini merupakan pusat segala fasilitas kota dan merupakan daerah dengan daya tarik tersendiri dan aksesibilitas yang tinggi.

  • Teori Poros (Babcock, 1960)

Menitikberatkan pada peranan transportasi dalam mempengaruhi struktur keruangan kota. Asumsinya adalah mobilitas fungsi-fungsi dan penduduk mempunyai intensitas yang sama dan topografi kota seragam. Faktor utama yang mempengaruhi mobilitas adalah poros transportasi yang menghubungkan CBD dengan daerah bagian luarnya.Aksesibilitas memperhatikan biaya waktu dalam sistem transportasi yang ada. Sepanjang poros transportasi akan mengalami perkembangan lebih besar dibanding zona di antaranya. Zona yang tidak terlayani dengan fasilitas transportasi yang cepat.

Lihat pula

Cahaya kota-kota dunia dari antariksa. NASA. Oleh Marc Imhoff

Referensi

Bibliografi

  • Bairoch, Paul (1988). Cities and Economic Development: From the Dawn of History to the Present. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 0-226-03465-8. 
  • Chandler, T. Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census. Lewiston, NY: Edwin Mellen Press, 1987.
  • Geddes, Patrick, City Development (1904)
  • Jacobs, Jane (1969). "The Economy of Cities". New York: Random House Inc. 
  • Kemp, Roger L. Managing America's Cities: A Handbook for Local Government Productivity, McFarland and Company, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK, 2007. (ISBN 978-0-7864-3151-9).
  • Kemp, Roger L. How American Governments Work: A Handbook of City, County, Regional, State, and Federal Operations, McFarland and Company, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK. (ISBN 978-0-7864-3152-6).
  • Kemp, Roger L. "City and Gown Relations: A Handbook of Best Practices," McFarland and Copmpany, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK, (2013). (ISBN 978-0-7864-6399-2).
  • Monti, Daniel J., Jr., The American City: A Social and Cultural History. Oxford, England and Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1999. 391 pp. ISBN 978-1-55786-918-0.
  • Mumford, Lewis, The City in History (1961)
  • O'Flaherty, Brendan (2005). City Economics. Cambridge Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 0-674-01918-0. 
  • Pacione, Michael (2001). The City: Critical Concepts in The Social Sciences. New York: Routledge. ISBN 0-415-25270-9. 
  • Reader, John (2005) Cities. Vintage, New York.
  • Robson, W.A., and Regan, D.E., ed., Great Cities of the World, (3d ed., 2 vol., 1972)
  • Rybczynski, W., City Life: Urban Expectations in a New World, (1995)
  • Smith, Michael E. (2002) The Earliest Cities. In Urban Life: Readings in Urban Anthropology, edited by George Gmelch and Walter Zenner, pp. 3–19. 4th ed. Waveland Press, Prospect Heights, IL.
  • Thernstrom, S., and Sennett, R., ed., Nineteenth-Century Cities (1969)
  • Toynbee, Arnold J. (ed), Cities of Destiny, New York: McGraw-Hill, 1967. Pan historical/geographical essays, many images. Starts with "Athens", ends with "The Coming World City-Ecumenopolis".
  • Weber, Max, The City, 1921. (tr. 1958)

Bacaan lanjutan

Pranala luar

  • ^ Muta'ali,Lutfi.(2015).Teknik Analisis Ragional Untuk Perencanaan Wilayah, Tata Ruang, Dan Lingkungan.Yograkarta:Badan perbit Fakultas Gegrafi (BPFG) Universitas Gajah Mada
  • En otros idiomas
    Аҧсшәа: Ақалақь
    Afrikaans: Stad
    Alemannisch: Stadt
    አማርኛ: ከተማ
    aragonés: Ciudat
    Ænglisc: Burg
    العربية: مدينة
    ܐܪܡܝܐ: ܡܕܝܢܬܐ
    مصرى: مدينه
    অসমীয়া: চহৰ
    asturianu: Ciudá
    авар: Шагьар
    Aymar aru: Marka
    azərbaycanca: Şəhər
    تۆرکجه: شهر
    башҡортса: Ҡала
    Boarisch: Stod
    žemaitėška: Miests
    Bikol Central: Syudad
    беларуская: Горад
    беларуская (тарашкевіца)‎: Горад
    български: Град
    भोजपुरी: शहर
    Banjar: Kuta
    বাংলা: শহর
    བོད་ཡིག: གྲོང་ཁྱེར།
    brezhoneg: Kêr
    буряад: Хото
    català: Ciutat
    Chavacano de Zamboanga: Ciudad
    Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄: Siàng-chê
    нохчийн: ГӀала
    Cebuano: Dakbayan
    Chamoru: Dangkulo
    ᏣᎳᎩ: ᎦᏚᎲᎢ
    کوردی: شار
    qırımtatarca: Şeer
    čeština: Město
    словѣньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ: Градъ
    Чӑвашла: Хула
    Cymraeg: Dinas
    dansk: By
    Deutsch: Stadt
    Zazaki: Sûke
    Ελληνικά: Πόλη
    emiliàn e rumagnòl: Sitê
    English: City
    Esperanto: Urbo
    español: Ciudad
    eesti: Linn
    euskara: Hiri
    estremeñu: Ciá
    فارسی: شهر
    suomi: Kaupunki
    Võro: Liin
    Na Vosa Vakaviti: Siti
    føroyskt: Býur
    français: Ville
    arpetan: Vela
    Nordfriisk: Stääd
    furlan: Citât
    Frysk: Stêd
    Gagauz: Kasaba
    贛語: 城市
    kriyòl gwiyannen: Vil
    Gàidhlig: Baile mòr
    galego: Cidade
    Avañe'ẽ: Táva
    ગુજરાતી: શહેર
    Gaelg: Caayr
    客家語/Hak-kâ-ngî: Sàng-sṳ
    Hawaiʻi: Kūlanakauhale
    עברית: עיר
    हिन्दी: शहर
    Fiji Hindi: City
    hrvatski: Grad
    hornjoserbsce: Město
    Kreyòl ayisyen: Vil
    magyar: Város
    հայերեն: Քաղաք
    interlingua: Citate
    Interlingue: Cité
    Igbo: Okeama
    Ilokano: Siudad
    ГӀалгӀай: Пхьа
    Ido: Urbo
    íslenska: Borg
    italiano: Città
    ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut: ᓄᓇᓖᑦ
    日本語: 都市
    Patois: Siti
    la .lojban.: tcadu
    Jawa: Kutha
    ქართული: დიდი ქალაქი
    Taqbaylit: Tamdint
    Адыгэбзэ: Къалэ
    Gĩkũyũ: Cĩtĩ
    қазақша: Қала
    ಕನ್ನಡ: ನಗರ
    한국어: 도시
    къарачай-малкъар: Шахар
    Ripoarisch: Stadt
    kurdî: Bajar
    коми: Кар
    Кыргызча: Шаар
    Latina: Urbs
    Ladino: Sivdad
    Lëtzebuergesch: Stad
    лакку: Шагьру
    лезги: Шегьер
    Limburgs: Sjtad
    lumbaart: Cità
    lingála: Engumba
    lietuvių: Miestas
    latviešu: Pilsēta
    मैथिली: शहर
    Malagasy: Tanàna
    олык марий: Ола
    Māori: Tāone
    Minangkabau: Kota
    македонски: Град
    മലയാളം: നഗരം
    монгол: Хот
    मराठी: शहर
    Bahasa Melayu: Bandar raya
    Mirandés: Cidade
    مازِرونی: شهر
    Dorerin Naoero: Tekawa
    Nāhuatl: Altepetl
    Napulitano: Cità
    Plattdüütsch: Stadt
    Nedersaksies: Stad (woonstee)
    नेपाली: सहर
    नेपाल भाषा: नगर
    Nederlands: Stad
    norsk nynorsk: Storby
    norsk: By
    Nouormand: Cité
    occitan: Vila
    Livvinkarjala: Linnu
    Ирон: Сахар
    ਪੰਜਾਬੀ: ਸ਼ਹਿਰ
    Deitsch: Schtadt
    Norfuk / Pitkern: Citii
    polski: Miasto
    پنجابی: شہر
    Ποντιακά: Πόλη
    português: Cidade
    Runa Simi: Hatun llaqta
    romani čhib: Foro
    română: Oraș
    armãneashti: Câsâbă
    tarandíne: Cetata granne
    русский: Город
    русиньскый: Місто
    саха тыла: Куорат
    ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ: ᱱᱟᱜᱟᱨ
    sicilianu: Citati
    Scots: Ceety
    سنڌي: شهر
    srpskohrvatski / српскохрватски: Grad
    සිංහල: නගර
    Simple English: City
    slovenčina: Mesto (všeobecne)
    slovenščina: Mesto
    chiShona: Guta
    Soomaaliga: Caasimad
    shqip: Qyteti
    српски / srpski: Град
    Sunda: Kota
    svenska: Stad
    Kiswahili: Jiji
    ślůnski: Mjasto
    தமிழ்: மாநகரம்
    тоҷикӣ: Шаҳр
    ไทย: นคร
    Tagalog: Lungsod
    Türkçe: Şehir
    Xitsonga: Dorobha
    татарча/tatarça: Шәһәр
    українська: Місто
    اردو: شہر
    oʻzbekcha/ўзбекча: Shahar
    vèneto: Sità
    vepsän kel’: Lidn
    Tiếng Việt: Thành phố
    West-Vlams: Stad
    Volapük: Zif
    Winaray: Syudad
    吴语: 城市
    ייִדיש: שטאט
    Yorùbá: Ìlú
    Zeêuws: Stad
    中文: 城市
    Bân-lâm-gú: Siâⁿ-chhī
    粵語: 城市