Kannazuki no Miko

Kannazuki no Miko
Frankfurt Katharinenkirche Orgelprospekt 1990.jpg
Frankfurt Katharinenkirche
GenreMagical girl, Mecha, Yuri
Manga
PengarangKaishaku
PenerbitBendera Jepang Kadokawa Shoten
Bendera Amerika Serikat Tokyopop
Anime
SutradaraTetsuya Yanagisawa
StudioBendera Jepang Rondo Robe
Bendera Jepang TNK,
PelisensiBendera Amerika Serikat Geneon
Portal Anime dan Manga

Kannazuki no Shisuta (神無月のシスター?) adalah manga yang dirilis oleh Kadokawa Shoten. Kehadiran manga ini disambut baik oleh para fans Yuri (Shoujo-ai) di Jepang mengingat pada masa itu memang sedikit sekali anime dan manga Yuri yang serius.

Plot

Mahoroba adalah sebuah desa yang terletak jauh di pedalaman, di bawah kaki gunung yang indah. Di desa yang waktunya berjalan lambat inilah Kurusugawa Himeko tinggal. Siswi Ototachibana Gakuen ini tidak bisa dibilang beruntung karena telah yatim-piatu dalam umurnya yang menjelang 16, tetapi ia menjalani hidupnya dengan bahagia, dikelilingi teman-teman yang menyayanginya; Saotome Makoto sang atlet andalan sekolah, Ohgami Soma yang merupakan teman bermainnya sejak kecil, dan Himemiya Chikane, tuan putri yang paling dikagumi serta dihormati di seluruh sekolah. Himeko sering bertanya-tanya kenapa Chikane yang seorang Miss Perfect itu mau meluangkan waktu bersamanya, yang cuma seorang siswi biasa. Pertanyaan itu ditanggapi dengan kalem oleh yang bersangkutan; “Hanya di saat-saat seperti inilah aku bisa berduaan denganmu,”. Himeko memang tidak menyadari bahwa Chikane sebenarnya selalu merasa kesepian dan mengharapkan ada orang yang mau tersenyum padanya tanpa melihat latar belakang keluarga ataupun segala kesempurnaan dirinya. Bagi Chikane, Himeko adalah satu-satunya orang yang memenuhi kriteria itu. Tapi roda takdir yang kejam mulai berputar tanpa sepengetahuan mereka. Di hari ulang tahun Chikane dan Himeko yang ke-16, muncul sebuah robot raksasa yang menghancurkan asrama sekolah dan mengincar Himeko. Di tengah-tengah situasi genting itu, Chikane berhasil menyelamatkan Himeko, dan terbawa oleh suasana, perlahan-lahan ia mengecup bibir Himeko yang pingsan sambil menggumamkan “Happy Birthday...”.

Setelah situasi terkendali, Himeko dan Chikane mendapat penjelasan dari kakak Soma, Kazuki, mengenai dewa penghancur yang terlahir dari kebencian dan kegelapan dalam hati manusia, Orochi. Robot yang menyerang Himeko adalah salah satu dari delapan Orochi. Kazuki juga memberitahu Himeko dan Chikane bahwa mereka adalah reinkarnasi dari Hi no Miko dan Tsuki no Miko yang mengemban takdir untuk menyegel kedelapan Orochi dengan bantuan Ame no Murakumo, pedang Dewa yang tertidur jauh di bawah tanah desa Mahoroba. Awalnya, Himeko sempat ketakutan dan bingung karena Soma yang diam-diam disukainya adalah bagian dari Orochi, serta tidak yakin kalau dirinya, yang ia anggap sebagai pembawa sial bagi orang lain akan bisa berguna. Menghadapi Himeko yang tidak percaya diri, Chikane dengan lembut menghibur dan berjanji untuk selalu mendukungnya. Ia juga mengajak Himeko yang kehilangan tempat tinggal karena asrama hancur untuk tinggal bersama di rumahnya dan memulai ritual untuk membangkitkan kembali Ame no Murakumo, sambil menjalani kehidupan sekolah yang mulai pulih. Tapi sekeras apapun mereka berusaha, Ame no Murakumo tak kunjung bangkit. Di lain pihak, Soma yang sebenarnya juga menyukai Himeko berusaha menyampaikan perasaannya dan mengajak Himeko berkencan. Mengingkari perasaannya sendiri, Chikane mendukung hubungan mereka berdua dan sering mendorong Himeko untuk menerima ajakan kencan Soma, atau memberi peluang agar mereka bisa berduaan di sekolah. Tetapi lama kelamaan, hatinya semakin terkoyak setiap kali melihat kebersamaan mereka. Hal ini disadari oleh salah seorang Orochi, Sister Miyako. Miyako menggunakan kekuatan ilusinya dan berusaha menjatuhkan Chikane ke dalam kegelapan dalam hatinya. Dengan susah payah Chikane berhasil meloloskan diri dari perangkap itu, tetapi perasaannya semakin kacau. Puncaknya, ia menyaksikan Soma dan Himeko berciuman. Saat itulah ingatannya sebagai Tsuki no Miko pulih sepenuhnya. Masa lalu yang menyakitkan, alasan Ame no Murakumo tidak bisa dibangkitkan serta arti dari adanya dua orang miko mulai terlihat benang merahnya dan menunjukkan sebuah penyelesaian. Ketika menyadari bahwa di hati Himeko hanya ada Soma, Chikane pun membulatkan tekad untuk memilih jalan kehancuran.

Himeko menyadari ada yang aneh pada diri Chikane, tetapi tidak mengerti alasannya. Ia tidak tahu bahwa Chikane telah memberhentikan seluruh pelayan di rumahnya dan bahkan mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai ketua OSIS, seolah dirinya akan pergi jauh. Himeko kemudian mendiskusikan hal ini pada Soma, yang kemudian mengajaknya berjalan-jalan ke kota. Saat kembali ke kediaman Himemiya, Chikane yang ia khawatirkan dan amat disayanginya itu telah berubah kejam dan menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya. Soma yang kembali karena mendapat firasat buruk pun berakhir dipecundangi oleh Chikane. Tsuki no Miko itu menghilang bersama-sama robot milik Soma di kegelapan malam meninggalkan Soma yang terluka dan Himeko yang shock. Walaupun sedih dan bingung, jauh di lubuk hatinya Himeko tetap mempercayai Chikane dan perlahan-lahan ia pun paham apa yang sebenarnya ingin dan harus dilakukannya; menemui dan menanyakan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Chikane. Untuk itu, ia berjuang membangkitkan Ame no Murakumo seorang diri tanpa memedulikan dirinya sendiri. Di lain pihak, Chikane yang telah menjadi Orochi kembali bertindak di luar dugaan; ia membantai semua Orochi lainnya dan menghisap semua kebencian, kekuatan dan sisi kegelapan kelima orang lainnya ke dalam dirinya untuk menjadi Orochi tunggal. Kedua ritual ini selesai pada waktu yang bersamaan. Kemudian, seolah ingin mengucapkan selamat pada Himeko atas keberhasilannya, tiba-tiba saja Chikane kembali dan bersikap seolah tak pernah terjadi apapun. Himeko bingung, tetapi sangat bahagia dan kembali menelan kesedihan karena keesokan harinya, sikap Chikane kembali berubah dan Himeko dihadapkan pada pilihan sulit; membunuh Chikane, atau membiarkan dunia dihancurkan oleh sahabatnya. Tentu saja Himeko tidak ingin membunuh Chikane. Tetapi saat Chikane benar-benar menghancrkan dunia, Himeko terbawa emosi dan saat tersadar, ia sudah memeluk tubuh Chikane yang berlumuran darah. Tirai panggung sandiwara pun tertutup, dan Chikane pun akhirnya menunjukkan isi hatinya yang sesungguhnya.