Alfonso XII dari Spanyol

Alphonse XII
Potret diri (1884)
Potret diri (1884)
Raja Spanyol
Berkuasa28 Desember 1874 – 25 November 1885
PendahuluAmadeo I
(Raja Spanyol)
Francisco Serrano
(Presiden Republik)
PenggantiAlfonso XIII
Lahir28 November 1857
Madrid
Mangkat25 November 1885 (umur 27)
El Pardo
PemakamanEl Escorial
WangsaWangsa Bourbon
AyahFrancis, Adipati Cádiz
IbuIsabella II dari Spanyol
PasanganMercedes dari Orléans
Maria Christina dari Austria
Anak
María de las Mercedes
Maria Teresa
Alfonso XIII dari Spanyol
AgamaKatolik Roma

Alfonso XII (bahasa Spanyol: 'Alfonso Francisco de Asís Fernando Pío Juan María de la Concepción Gregorio Pelayo'; bahasa Inggris: 'Alphonse XII'; lahir di Madrid, Spanyol, 28 November 1857 – meninggal di Madrid, 25 November 1885 pada umur 27 tahun) adalah Raja Spanyol, yang berkuasa dari tahun 1874 hingga 1885. Ia berkuasa setelah gerakan kudeta berakhir. Ia mengembalikan monarki dan mengkahiri Republik Spanyol Pertama.

Alfonso menjalani pembuangan setelah Revolusi Kemenangan menggulingkan ibunya Isabella II dari takhta pada1868, Alfonso belajar ke Austria dan Perancis. Ia kembali ke Spanyol sebagai raja pada 1874 menyusul kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan republik. Alfonso meninggal pada usia 27 tahun pada tahun 1885, dan digantikan oleh anaknya yang belum lahir disaat kematiannya. Anaknya ini lalu menjadi Alfonso XIII dan langsung menjadi raja pada hari kelahirannya.

Kehidupan awal, latar belakang politik dan silsilah

Alfonso adalah putra sulung Ratu Isabella II dari Spanyol. Secara resmi, ayah Alfonso adalah istri ratu, Francis, Adipati Cádiz. Ayah biologis Alfonso tidak diketahui secara pasti: terdapat spekulasi bahwa ayah biologisnya bernama Enrique Puigmoltó y Mayans (seorang kapten pengawal).[1] Rumor ini digunakan sebagai propaganda politik melawan Alfonso oleh gerakan Carlists.

Koronasi ibunya ini menjadi penyebab keadaan tidak stabil di dalam negeri, yang mana menyebabkan Perang Carlist. Pendukung Count Molina menginginkannya sebagai raja baru Spanyol. Selain itu kebangkitan sistem ala paska-restorasi Napoleonik dan revolusi yang telah menyebar di kawasan Eropa bagian barat dan Amerika, membuat semangat pendukung Carlisme semakin terbakar. Di sisi lain, paham Isabelino yang konservatif menentang sistem konstitusional Napoleonik. Seperti Inggris, yang juga tidak mengubah sistemnya, Pihak yang konservatif di Spanyol ingin melanggengkan Hukum Organik Tradisional Spanyol seperti Fuero Juzgo, Novísima Recopilación dan Partidas of Alfonso X. Hal ini juga menjadi penyebab ketidakstabilan negara, sebuah gerakan bernama "Independence of the American Kingdoms", diakui pada periode 1823 dan 1850.

Bangsa yang terbelah

Saat Ratu Isabella dan suaminya dipaksa meninggalkan Spanyol dalam Revolusi pada tahun 1868, Alfonso juga ikut bersama mereka ke Paris. Dari sana, ia dikirim ke Theresianum di Wina untuk melanjutkan studinya. Pada 25 Juni 1870, ia dipanggil kembali ke Paris, dimana ibunya turun takhta untuknya. Ia memangku gelar Alfonso XII, meskipun tidak ada satupun Raja di Spanyol yang memangku gelar "Alfonso XI". Monarki di Spanyol ini adalah kelanjutan dari beberapa kerajaan yang lebih lama seperti Asturias, León dan Castile yang memiliki 11 raja yang memiliki nama Alfonso.

Monogram Kerajaan

.

Masa Republik

Setelah ditinggal Amadeo pada 1873, Parlemen mendeklarasikan Republik Federal (termasuk Kuba, Puerto Rico dan Kepulauan-kepulauan di Pasifik), kebijakan pertama President Estanislao Figueras adalah menerbitkan Undang-Undang Abolisi untuk Puerto Rico. Sedangkan budak-budak di Kuba harus menunggu hingga 1889.

Namun beberapa penduduk republik tidak setuju dengan kebijakan ini. Mereka mengambil contoh Perang di Kuba, kebangkitan Muslim di Maroko Spanyol dan berlanjutnya Perang Carlist yang menunjukkan bahwa keadaan tidak semakin membaik. Hal ini menyebabkan terjadi gagasan untuk mengadakan restorasi Bourbon, yang dicanangkan oleh beberapa pihak yang dipimpin oleh Canovas del Castillo.

Pangeran Asturias, Alfonso, adalah orang yang dinilai tepat untuk mengembangkan rencana yang digagas Canovas, hal ini juga yang menyebabkan abdikasi Ratu Isabel II pada Juni 1870 untuk Pangeran Alfonso. Rencana yang bergulir pada 1810 ini menyebabkan krisis “abadi” yang dinamakan 'Alfonsismo' dan tokoh moderat dan sentris Cánovas del Castillo menjadi juru bicara gerakan ini. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kembalinya Alfonso ke Spanyol, Cánovas juga menjadi orang yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Maka, ia mengirim Alfonso keAkademi Militer Sandhurst di Inggris.

Pada 1 Desember 1874, Alfonso mengeluarkan Manifesto Sandhurst, dimana di dalamnya terdapat ideology dasar dari Restorasi Bourbon. Manifesto ini dirilis sebagai jawaban atas ucapan selamat ulang tahun untuknya dari para pendukungnya, manifesto ini berisi tentang proklamasi dirinya sebagai sosok satu-satunya yang mewakili monarki di Spanyol. Pada akhir 1874, Brigadir Martínez Campos, memimpin beberapa battalion pasukan ke Sagunto, kemudian memasuki Valencia dengan nama raja.[butuh rujukan] Setelah itu presiden mundur dari jabatannya dan semua kekuasaanya diberikan kepada penasehat raja, Antonio Cánovas. Pada 29 Desember 1874 kudeta militer Jenderal Martinez Campos di Sagunto mengakhiri republik yang gagal dan digantikan oleh sang pangeran muda, Pangeran Alfonso.

En otros idiomas
беларуская: Альфонса XII
български: Алфонсо XII
čeština: Alfons XII.
français: Alphonse XII
hrvatski: Alfons XII.
한국어: 알폰소 12세
Lëtzebuergesch: Alfonso XII. vu Spuenien
Tagalog: Alfonso XII
Türkçe: XII. Alfonso
українська: Альфонс XII